Bisnis Pendidikan : Astaghfirullah atau Alhamdulillah?

Pendidikan menjadi kebutuhan dasar seorang manusia di muka  bumi.Malaikat bersujud kepada Nabi Adam karena ketinggian ilmunya yang dapat menyebutkan nama benda-benda di alam raya setelah mendapatkan pengetahuan dari Allah SWT. 

Karena ketinggian ilmu pengetahuan pula menyebabkan Ashif Ibnu Barkhiya dapat memindahkan singgasana Ratu Bilqis dalam satu kedipan mata mengalahkan Jin Ifrit yang memindahkannya sebelum Nabi Sulaiman as bangkit dari duduknya

Lantas di Indonesia hak mendapatkan pendidikan telah dilindungi oleh Undang-undang resmi. Seiring berjalannya waktu, Orang Indonesia yang dulu menganggap pendidikan dasar baca tulis sebagai barang mewah karena yang diizinkan mendapatkan pengajarannya hanya anak priyayi saja, sekarang level jenjang pendidikan menjadi gengsi tersendiri. Malu punya anak malas ke sekolah, malu anaknya tinggal kelas, hingga jenis sekolah pun menjadi gengsi bagi orangtua. Hal ini terbukti dengan masih adanya orangtua yang malu menyekolahkan anak berkebutuhan khusus tingkat berat di Sekolah Luar Biasa. Sementara orangtua lain bekerja keras supaya anaknya masuk ke sekolah ‘yang dianggap favorit’ meskipun lewat jalur belakang.

Oke, apakah Anda tim pro bahwa sampai di sini tidak ada yang salah dengan sekolah favorit dan sekolah pinggiran? Label anak bintang kelas? Bagi orang-orang berjiwa pengusaha tentu akan melihat fenomena ini sebagai salah satu peluang usaha baru. Bisnis pendidikan. Memonetisasi ranah yang mulia ini. Ranah yang membuat manusia dapat membuat berbagai macam teknologi, atau mengubah perilaku anak dari yang dianggap melanggar norma masyarakat menjadi mematuhinya.

Pernahkah Anda terfikirkan mengenai kehadiran Lembaga Bimbingan Belajar. Benarkah lembaga tersebut membantu siswa mencapai prestasi dari usaha dan potensi terbaik yang dikembangkan? Atau justru inilah bukti bahwa sedang terjadi kegagalan oleh seorang guru pengajar di sekolah dalam membantu putra-putri asuhannya memahami materi belajar.

Pepatah lama mengatakan “Tidak ada murid yang bodoh, yang ada guru yang tidak memahami strategi belajar mengajar.” Kiranya ungkapan tersebut perlu ditanamkan kepada jiwa setiap aktivis pendidikan, para pendidik dan orangtua itu sendiri. Bahwa setiap anak tentu memiliki potensi. Sebelum memberikan pengajaran, sebaiknya diadakan asesmen kebutuhan dan mengenali gaya belajar anak.

Tidak ada yang salah jika anak tipe visual yang hanya bisa fokus di ruangan hening dengan banyak warna di tembok akhirnya memutuskan les privat untuk mengejar materi di kelas. Bukan karena dia tidak mampu memahami pelajaran, melainkan karena dalam proses pembelajarannya sekolah yang memang harus menyampaikan materi secara klasikal tidak dapat diterima oleh si anak.

Kasus di atas adalah contoh pengecualian. Beda lagi jika seorang guru kelas sengaja membuka jasa les tambahan di rumah untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan sempat berwacana untuk menggandeng KPK dalam menangkap para guru kelas yang memberikan bimbingan belajar tambahan berbayar kepada anak. Lhoh apa hubungannya? Sadarkah kita beberapa guru akhirnya menambah nilai peserta didik yang les di beliau, bukan karena kemampuannya, namun karena ikatan emosional dan jalinan customer-penyedia jasa yang seharusnya mengemban peran sebagai guru secara objektif-ilmiah. Tindakan ini dapat dikategorikan sebagai nepotisme.

Jika Anda tim pro, masihkan Anda berbangga pernah bergabung di lembaga  bimbingan belajar? Atau tak gamang ketika melihat lembaga bimbingan belajar tumbuh subur. Padahal seorang guru yang baik bisa saja menambah jam mengajarnya tanpa harus berbayar. Dengan syarat muridnya memang belum paham. Karena memang sudah menjadi tugas gurulah menemani murid berproses dari tidak tahu apa-apa menjadi bertambah ilmu pengetahuannya.

 

Penulis : Nor Laili, setelah lulus dari Basic Training di Nganjuk tahun 2012 hingga sekarang menjadi kader PII di tataran wilayah Jawa Timur telah menyukai aktivitas menulis. Puisi pertamanya terbit pada tahun 2012 di majalah milik Depag Jatim. Setelah itu berkontribusi dalam beberapa proyek buku antologi dan sempat menjadi penulis lepas di berbagai bulog. Namun genre menulis sastranya kemudian dibanting setirkan ke ilmiah sejak menjadi mahasiswa Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang pada 2017. Dia dapat dihubungi di norlaili0002@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *